Doctor's Search

Tag: rspb

Desember 5, 2017

Waspadalah terhadap Gejala-gejala Penyakit Usus Buntu.

Gejala utama pada penyakit usus buntu adalah sakit perut. Meski demikian, tidak semua jenis sakit perut akan berujung pada apendisitis.

Sakit perut yang mengindikasikan penyakit ini biasanya berawal di perut bagian tengah. Pada awalnya, rasa sakit itu akan datang dan pergi. Beberapa jam kemudian, rasa sakit akan berpindah ke perut kanan bawah (tempat usus buntu berada) sebelum akhirnya bertambah parah dan terus menerus terasa sakit.
.
Ingin tahu lebih jauh tentang Usus buntu dan gejalanya?
Saksikan di BTV hari Jumat 8 Desember 2017 pukul 07.30 oleh dr. Muhammad N. Khairuddin, Sp.B

April 15, 2016

TANGANI BANYAK KASUS: Khairuddin di ruang operasi milik RSPB.

DOKTER Khairuddin, SpB menyambut kedatangan Kaltim Post dengan hangat, awal pekan lalu. Siang itu, di sela-sela kesibukannya, media ini mendapatkan kesempatan berbincang-bincang dengannya di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB). Pria berusia 49 itu mengajak koran ini melihat ruang operasi, tempat di mana biasa dia bekerja.

Ia menjelaskan, secara general, dokter bedah umum harus menghadapi semua pasien dari berbagai macam penyakit yang memerlukan tindakan bedah. Mulai pasien usus buntu, hernia, tumor hingga hemoroid. “Paling sering yang termasuk bedah digestif, yaitu bedah yang berhubungan dengan perut,” tuturnya.

Menurutnya, tantangan terbesar datang saat menghadapi pasien akibat kecelakaan. Contoh kasusnya, ketika pasien datang dengan pendarahan yang hebat dalam perut. Sebagai dokter, ia harus mencari tahu terlebih dahulu dari mana sumber pendarahan berasal.

“Kesulitan kami harus mencari tahu apa yang terjadi dengan tubuh pasien. Operasinya pun emergency, tidak terencana. Sehingga tindakannya harus cepat agar pasien tidak kehabisan darah. Mungkin sekitar 30 menit operasi harus selesai,” jelas anggota Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Balikpapan.

Seperti salah satu kasus kecelakaan yang pernah ditangani olehnya, korban mengalami pendarahan hebat di perut akibat limpa yang pecah. “Jujur saja, saat itu tensi korban sudah drop yang artinya pompa jantung sudah lemah. Harapan itu mungkin sudah tipis. Namun, dengan kesigapan dan kecepatan, alhamdulillah kami berhasil menemukan sumber pendarahan dengan cepat,” ungkapnya.

Khairuddin mengatakan, ia sering bertemu pasien dengan kasus yang berat dan tingkat kesembuhan yang kecil. Namun, mereka berhasil sembuh, karena semasa hidupnya, pasien adalah orang baik.

“Mungkin orang lain merasa aneh, tapi bagi kami orang yang berada di dunia kedokteran, hal keajaiban seperti itu sering terjadi,” ungkap anak dari pasangan Abdul Kadir (almarhum) dan Fatimah, tersebut.

Ia menambahkan, kasus-kasus yang diperkirakan sudah tidak mungkin sembuh, justru seperti mendapat bantuan dan mukjizat yang hebat. Sebab, ia meyakini di balik kekuatan medis, masih ada tangan Tuhan yang akan membantu pasien.

Berdasarkan pengalamannya, medis itu hanyalah sebuah jalan. Tetapi, kekuatan terbesar tetap pada doa. “Saya terus ucapkan itu kepada orang-orang terdekat pasien, karena itu bisa memberikan efek yang luar biasa,” tuturnya. Dengan begitu, Khairuddin merasa lebih tenang selama proses operasi. Karena banyak dukungan yang diberikan kepada pasien melalui doa.

Menurutnya, kesulitan menjadi seorang dokter bedah justru terletak dalam komunikasi. Bagaimana dirinya bisa menciptakan komunikasi dua arah antara dokter dan pasien. Sehingga tidak ada unsur pemaksaan jika pasien harus menjalani tindakan operasi. Sebab, terkadang istilah operasi masih terdengar menakutkan bagi pasien.

Maka, ia berusaha mengedukasi pasien dan menumbuhkan rasa kepercayaan pasien padanya. “Harus punya waktu lebih dan mau menjelaskan kepada pasien tentang apa saja yang akan dilakukan, bagaimana proses dan risiko operasi harus disampaikan dengan jujur,” ungkapnya.

Rasa kejujuran juga menjadi pesan penting yang diberikan almarhum sang ayah kepadanya. Jujur dalam hal apapun, termasuk jujur dengan pasien. Diskusikan tentang pilihan dan konsekuensi yang akan mereka alami.

“Jadi, kejujuran adalah sebuah modal awal. Sekali kita berbohong, maka akan menciptakan rangkaian kebohongan lainnya. Saya pun tidak ingin suatu hari dituntut oleh pasien kalau saya tidak jujur,” tutur pengurus Palang Merah Indonesia Balikpapan itu.

Jika menilik kisah perjalanannya sebagai dokter, Khairuddin merupakan mahasiswa lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tahun 1993. Ia sempat menjadi dokter berstatus pegawai tidak tetap (PTT) di Long Iram, Kutai Barat selama empat tahun.

Pria yang gemar futsal itu kemudian memutuskan melanjutkan sekolah di kampus yang sama dengan mengambil program spesialis bedah dan lulus tahun 2003. Ia menuturkan, dirinya memang tertantang masuk dunia kedokteran yang dekat dengan tindakan.

Baginya, menjadi dokter spesialis bedah memiliki kepuasan tersendiri. “Karena kalau berhubungan dengan tindakan, hasil pengobatannya akan cepat terlihat. Jadi tahu apa pekerjaan yang dilakukan benar atau salah,” ungkapnya.

Kali pertama, Khairuddin bertugas menjadi dokter bedah umum di RSUD AM Parikesit Tenggarong tahun 2003-2005. Namun, selama dua tahun kemudian, akhirnya dia memilih menjadi bagian dari RSPB. Niatnya memang karena ingin kembali dan mengabdi pada kota kelahirannya di Balikpapan.

Selain menjadi dokter, ia juga memiliki kesibukan sebagai instruktur Advanced Trauma Life Support (ATLS). Khairuddin menjadi instruktur minimal enam kali dalam setahun. Karena berskala nasional, maka dia harus mengajar di berbagai kota di Indonesia.

“Mengajarkan penanganan trauma, baik teori maupun praktik. Dengan mengajar, saya merasa senang karena seperti me-refresh ilmu,” ujar Sekretaris PC Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Kaltim itu. (rom/k15)

Posted in Bedah Umum by admin | Tags: , ,
April 23, 2014

Menyerang Secepat Kilat, Ditandai Irama Pembawa Kematian.

DARI 100 persen kematian karena penyakit jantung, STEMI mendominasi. Angkanya 35 persen. Jenis-jenis lain yang masuk tipe non-STEMI angkanya 65 persen.  STEMI adalah jenis serangan jantung akut karena pembuluh darah yang tiba-tiba buntu total. Penyebabnya, bagian otot jantung rusak permanen karena darah tidak dapat mengalir di seluruh pembuluh darah.

Dokter Muhammad Iqbal SpJP menuturkan, saat pembuluh darah buntu artinya tak mendapatkan aliran darah. Padahal, darah berfungsi untuk membawa oksigen dan nutrisi yang menyuplai kelangsungan hidup otot-otot jantung. Apabila darah tersebut tidak dapat mengalir, otot-otot jantung akan mengalami kerusakan dan kematian. Jika otot jantung mati, maka terus berkembang dan dalam satu hari akan mencapai seluruh ketebalan dinding jantung.

“Risiko meninggalnya (karena STEMI) tinggal melihat di mana lokasi sumbatannya. Jika sumbatannya terjadi di pangkal, itu membuat pembuluh darah lain tidak dapat aliran darah. Sehingga, risiko meninggal mendadaknya tinggi,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) ini. Masih ada harapan jika sumbatan terjadi di bagian ujung pembuluh darah. Risiko meninggal secara mendadak lebih kecil. Ini karena pembuluh darah lainnya masih mendapatkan aliran darah.

“Proses menyerangnya juga secepat kilat karena pembuluh darah tiba-tiba hilang dan aliran darah terputus. Biasanya terjadi sumbatan pada pangkal pembuluh darah. Semakin berbahaya jika timbul irama jantung tertentu yang terjadi dalam waktu dua jam setelah serangan jantung pertama,” jelasnya.

Sebagai informasi, irama jantung atau aritmia termasuk kelainan. Yakni, kondisi di mana irama jantung tidak normal. Sering juga disebut sebagai kelainan denyut. Pasien bisa memiliki irama jantung yang terlalu cepat atau lambat. Perubahan irama pun terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan rasa sakit yang hebat seperti getaran jantung, pusing, sesak napas. Berbeda jika irama jantung berjalan dengan normal, maka tidak akan membuat seseorang kesakitan. Aritmia memang tidak begitu populer, namun risikonya juga dapat menyebabkan kematian. Bahkan penyakit ini juga dapat menyerang pada jantung normal.

Iqbal mengatakan, STEMI menjadi faktor utama kematian di Indonesia karena beberapa penderita jantung koroner tidak menyadari mereka mengidap penyakit ini. Perbandingannya 50:50. Yakni, 50 persen dari total penderita menyadari mereka adalah pasien jantung, sehingga rutin kontrol dan melakukan langkah pencegahan lainnya. “Tetapi, 50 persen lagi tidak tahu bahwa sedang mengidap penyakit jantung. Mereka akan sadar, saat sudah kena serangan pertama. Ini yang membuat banyak orang bisa meninggal mendadak,” tutur dokter yang tinggal di Balikpapan Baru ini.

Penyakit yang sering disebut angin duduk oleh orang awam itu, sering kali dipicu karena olahraga yang berlebihan hingga kelelahan. Sementara, faktor penyebab STEMI di antaranya merokok, diabetes mellitus, hipertensi, kadar kolesterol tinggi, kegemukan, dan keturunan. “Kasus yang terjadi ialah dalam tubuh pasien sudah terjadi penyempitan pembuluh darah tapi mereka tidak sadar. Kemudian, mereka melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya sumbatan total pada pembuluh darah seperti kelelahan karena berolahraga itu,” ujarnya.

Iqbal mengatakan, untuk mengetahui mana yang STEMI dan non-STEMI dapat terlihat dari keluhan pasien dan pemeriksaan rekam jantung yang disebut elektrokardiografi atau EKG. Biasanya penderita STEMI akan merasakan nyeri hebat di bagian dada selama 20 menit, mual, muntah, berkeringat, dan kesulitan bernapas.

Sejauh ini, penanganan kepada penderita STEMI adalah pemberian obat pengencer darah kuat dan penghilang rasa sakit. “Ketika pasien akan datang secara mendadak langsung masuk ruang UGD. Saat itu yang kami lakukan pertama adalah pemberian obat terlebih dahulu,” jelasnya.

Jika kondisi sudah mulai membaik, pasien akan langsung dibawa ke cath lab untuk menjalani pemasangan ring jantung secepatnya. Sebab, semakin cepat ring jantung dipasang maka akan semakin banyak otot jantung yang terselamatkan. “Kalau tidak bisa dipasangi ring jantung, kami akan menggunakan obat, yaitu streptokinase. Biayanya sekitar Rp 6 juta, obat ini untuk menghancurkan pembekuan darah,” ungkapnya.

Dokter yang juga praktik di sejumlah rumah sakit di Kota Minyak ini menuturkan, setiap tahun jumlah penderita STEMI memang semakin meningkat. Ini disebabkan faktor pola hidup yang tidak baik. Sehingga, cara ampuh mengurangi penderita STEMI adalah dengan metode pencegahan.

“Sosialisasi hidup sehat dengan rajin berolahraga seperti berjalan kaki, perhatikan pola makanan terutama mengurangi yang berlemak dan rutin kontrol ke dokter mulai dari usia 40 tahun ke atas,” ujarnya. (far/k15)

Sumber : //kaltim.prokal.co

Posted in Jantung by admin | Tags: , , , ,